Tampilkan postingan dengan label Renungan Remaja dan Pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Remaja dan Pemuda. Tampilkan semua postingan

DAPATKAN SEMANGATNYA

>> Sabtu, 26 September 2009

Yohanes 16 : 4b – 15

Remaja yang dikasihi Tuhan Yesus,
Ada kisah tentang seorang remaja bernama Tony. Orang mengenalnya sebagai seorang remaja yang badung, sulit diatur dan semaunya sendiri. Bahkan orangtuanya merasa tidak berdaya lagi untuk bisa menjinakkannya….. Suatu ketika, Tony, yang masih duduk di kelas 2 SMU itu, mengikuti kelas katekisasi. Ia begitu menonjol dibandingkan rekan-rekan peserta lainnya. Bukan karena prestasinya, tetapi karena rambutnya. Sebab selama mengikuti kelas katekisasi, ia mengubah warna rambutnya sampai 5 kali (kuning, hijau, merah, ungu, putih). Si pendeta yang mengajarnya dibuat kerepotan karena dia sering ngobrol dan membuat keributan kecil di kelas….

Ketika percakapan dengan Majelis Jemaat, beberapa Penatua meragukan bahwa dia sungguh-sungguh ingin hidup baru sehingga mereka tidak merekomendasikannya dilayani Sidi. Namun bersamaan dengan itu, Tony berkata kepada pendetanya : “Pak, mungkin sebaiknya rambut saya di cat hitam ya, supaya terlihat rapih saat berada di depan jemaat.” Benar juga, pada waktunya ia tampil rapih dan menunjukkan sesuatu yang berbeda. Dan tidak hanya itu, setelah menerima Sidi, Tony rajin mengikuti berbagai retreat…. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan studi di teologia dan kini ia telah menjadi seorang pendeta.

Siapa sangka, bahwa seseorang dapat berubah begitu rupa dari seorang yang suka-suka gua dan tidak bisa diatur menjadi seorang pelayan Tuhan…. Kisah Tony merupakan salah satu dari sekian banyak cerita di mana Roh Kudus berkarya dalam hidup banyak orang. Roh Kudus memberikan kekuatan kepada mereka yang merasa tidk berdaya; Roh Kudus memberikan keteguhan kepada mereka yang semula plin-plan dan tidak berani mengambil sikap; Roh Kudus memberikan semangat baru kepada mereka yang putus asa dan kehilangan harapan…..

Di sini, Roh Kudus yang diutus Tuhan Yesus tidak serta merta pada karya yang bersifat spektakuler, seperti yang diyakini sementara orang (berbahasa roh, kesembuhan ilahi, dsb). Kita ingat kisah nabi Elia. Pada waktu itu, Elia protes kepada Tuhan karena merasa seorang diri dan tidak diperhatikan Tuhan sehingga bersembunyi di dalam gua di gunung Horeb. Ia terus berdiam diri di sana dan tidak mau keluar. Padahal berbagai kejadian luar biasa dialami Elia, mulai dari angin besar dan kuat, gempa lalu api yang menyambar, sedikitpun tidak mampu membuat Elia keluar dari dalam gua tersebut. Namun ketika Roh Tuhan mengampirinya dalam bentuk angin sepoi-sepoi, Elia justru menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu (I Raja-raja 19 : 9 – 15). Ya, Elia berubah sikap setelah merasakan sapaan Tuhan melalui Roh Kudus, yang digambarkan sebagai angin. Cara kerja sungguh luar biasa….

Pertanyaannya, bagaimana kita mendapatkan semangat dari karya Roh Kudus itu ? Mari kita perhatikan bacaan Yohanes 16 : 4b – 15. Dalam bacaan itu, para murid merasakan dukacita karena harus menghadapi kenyataan, bahwa tidak berapa lama lagi Tuhan Yesus tidak berada di tengah-tengah mereka. Perpisahan ini tentu merupakan suatu kehilangan besar. Sebab selama 3 tahun lamanya mereka telah bersama-sama, dan Tuhan Yesus adalah segalanya bagi mereka.

Namun Tuhan Yesus tidak mau membiarkan mereka tenggelam dalam kesedihan itu. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menjanjikan, jika Ia pergi, maka Ia akan mengutus Roh Kudus, yang akan terus berkarya dalam hidup manusia. Ia bekerja bagi dunia dan dalam diri manusia agar dunia dan manusia sadar akan dosa-dosanya, percaya dan meyakini Tuhan serta hidup dalam kebenaran. Roh Kudus inilah yang senantiasa menghibur dan memberi kekuatan kepada umat-Nya, sehingga tidak perlu kita merasa takut, kuatir ataupun gelisah dalam menghadapi berbagai kenyataan hidup yang mungkin tidak dikehendaki namun terjadi….

Namun bagaimana kita mendapatkannya ?
1. Dalam hidup kita saat ini, Roh Kudus tetap berada di tengah-tengah kita sampai Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kalinya…. Jadi kita tidak perlu mencari-Nya, sebab Roh Kudus dicurahkan kepada setiap orang. Ia selalu ada di tengah-tengah kehidupan kita. Memang kita tidak dapat melihatnya secara fisik (kasat mata), sebab Dia adalah Roh. Namun rasakanlah kehadiran dan karya-Nya…. Kuncinya adalah percaya dan yakin serta bukalah hati dan ikutilah kehendak Allah, maka kita akan merasakan karya Roh Kudus itu dalam hidup kita. Bagaimana cara kerja Roh Kudus itu ?

2. Seperti dalam kisah nabi Elia, cara kerja Roh Kudus itu seperti angin. Tidak terlihat, tetapi kita dapat merasakannya. Juga kita ingat bagaimana Roh Kudus berkarya dalam diri para murid. Setelah Tuhan Yesus naik ke sorga, dalam bentuk lidah-lidah api yang hinggap di kepala mereka, Roh Kudus berkarya menyemangati para murid yang semula hidup dalam keputus-asaan sehingga mereka berani tampil ke muka dan menyuarakan Injil Tuhan. Roh Kudus berkarya memberi semangat kepada mereka yang telah putus-asa dan kehilangan harapan sehingga mereka dapat mengerjakan tugas mereka sebagai para rasul dan tetap tegar menghadapi kenyataan hidup yang keras….. Bahkan Roh Kudus pula yang memproses orang untuk mengalami hidup baru…..

Read more...

MEREKA JUGA SAUDARA KITA

>> Sabtu, 29 Agustus 2009

Yunus 4 : 1 - 11

Remaja yang dikasihi Tuhan,

Ada sebuah kasus : seorang siswa SMU bernama Mario selalu menjuarai kelas di salah satu SMU negeri di Bandung. Hanya saja, teman-temannya tidak suka dengan kondisi itu. Apalagi Mario hanya satu-satunya orang Kristen di kelas itu. Maka sikap tidak suka berubah menjadi sikap benci kepadanya. Berbagai usaha dilakukan teman-temannya untuk mendiskreditkannya, agar reputasi baiknya jatuh. Pernah ia dituduh mencuri; pernah juga Mario dikasari karena kesalah-pahaman. Situasi ini terus bertahan sampai mereka naik ke kelas 3. Rupanya Mario tidak tahan lagi diperlakukan demikian, sehingga ia pindah sekolah.

Seringkali kelompok-kelompok yang merasa dirinya berbeda dengan kelompok lain “membangun tembok” masing-masing untuk sekedar melindungi diri atau menekan pihak lain. Agama, suka bangsa, ideologia dsb sering dianggap sebagai tembok yang memisahkan antar kelompok masyarakat. Mengapa hal itu bisa terjadi ?

Tidak jarang, orang lebih memelihara persepsi negatif yang berkembang di sekitar kita. Persepsi negatif itu menjadi suatu cap, stigma terhadap kelompok lain, sehingga menghambat orang mengasihi sesama yang dianggap berbeda itu. Akibatnya, persepsi-persepsi negatif itu semakin menyulitkan persatuan kesatuan antar umat beragama.

Contoh : ada orang Kristen yang menyangka orang muslim sebagai kelompok ekstrimis, yang sering melakukan tindakan kekerasan terhadap agama lainnya; Atau umat Kristen disangka orang-orang islam melakukan kristenisasi atau kafir yang pantas disingkirkan.

Bagaimana sikap kita sebenarnya ? Mari kita belajar dari kisah Yunus, yang dipaparkan dalam bacaan kita kali ini.

Seperti yang kita ketahui, Yunus ditugaskan Tuhan untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang Niniwe, bahwa Tuhan akan segera memberikan penghukuman atas perilaku mereka yang menyimpang dari kehendak Tuhan. Semula Yunus takut, sebab orang-orang Niniwe lebih besar dan kuat darinya, bahkan konon terkenal kejam dan bengis. Dalam ketakutannya, ia melarikan diri ke Tarsis. Namun ia dilemparkan ke laut dan dimakan ikan besar. Akhirnya, ia mengerti bahwa tidak mungkin dapat lari dari Tuhan. Sekali Tuhan memilih, maka Tuhan tidak akan pernah melepaskannya. Akhirnya Yunus memenuhi perintah Tuhan itu…

Hanya saja, bersamaan dengan itu, sikap Tuhan berubah. Pasalnya, orang-orang Niniwe telah bertobat, sehingga Tuhan membatalkan hukuman kepada mereka. Rupanya, sikap Tuhan ini sulit dimengerti Yunus…. Bagi Yunus, mereka yang jahat dan berbuat dosa haruslah dihukum. Apalagi mereka berbeda dengannya, tidak beradab dan berdosa….Ya, Yunus merasa dipermainkan oleh Tuhan. Yunus merasa jengkel marah ! Ia berdoa kepada Tuhan demikian : “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku ? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” (Yunus 4 : 2 – 3) Keinginan Yunus, orang-orang Niniwe tetap dihukum Tuhan. Mereka tidak pantas berada di dunia ini.

Mengapa sikap Yunus berbeda dengan sikap Tuhan ? Jika Yunus tetap mempertahankan persepsi negatif (cap/stigma) terhadap orang-orang Niniwe, lain halnya dengan Tuhan. Tuhan selalu terbuka bagi suatu perubahan. Jika orang-orang Niniwe bertobat, itu suatu kabar baik. Apalagi, Tuhan mengasihi semua ciptaan-Nya tanpa kecuali, tanpa membedakan latar-belakang ras, suku, kebiasaan, budaya bahkan agama atau kepercayaan mereka. 

Tuhan pun menghendaki semua ciptaan-Nya memahami, bahwa mereka adalah “saudara” yang diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa-Nya. Dengan demikian, Tuhan mengajar kita untuk menghargai, menghormati dan mampu bekerjasama dengan sesama yang berbeda untuk membangun dunia ini agar tercipta damai sejahtera bagi seluruh umat…..

Konflik yang terjadi akhir-akhir ini telah memberi coreng kepada muka kemanusiaan. Orang hanya berpikir, bahwa dirinyalah yang ada di dalam dunia. Mereka yang berbeda haruslah dihukum dan dianiaya. Sikap ini tidak terpuji, apalagi dikehendaki Tuhan.

Bagaimana kita mewujudkan hidup bersama dan perdamaian dengan mereka yang berbeda dengan kita ?

Sikap yang akan dilakukan :

(1). Tetaplah melihat sisi manusianya, dan bukan perbedaannya.
(2). Membantu mereka sekalipun mereka berbeda dengan kita.

Sikap yang tidak akan dilakukan :
(1). Melecehkan, menghina dan memusuhi.
(2). Menarik diri dari pergaulan dengan mereka.



Nas Alkitab : Efesus 2 : 14 - 16
Berita Anugerah : Mazmur 78 : 38 – 39; Mazmur 103 : 2 - 5
Petunjuk Hidup Baru : Matius 5 : 22 – 25; Markus 9 : 50.

Read more...

DISIPLIN ROHANI dan LEGALISME

>> Kamis, 06 Agustus 2009

Bacaan Alkitab : Matius 5 : 17 – 20
Para pemuda yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,
Jika perikop di atas kita baca sepintas lalu, maka kita dapat mengatakan, bahwa dari seluruh Khotbah yang diucapkan Yesus di bukit, maka perikop tersebut di atas merupakan pernyataan Yesus yang paling mengherankan dan membingungkan. Betapa tidak ? Mari kita perhatikan dengan seksama !
Yesus mengatakan di dalam Matius 5 : 19 demikian, “…siapa yang meniadakan salah satu hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga.; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” Dengan kata lain, Yesus seolah-olah menempatkan hukum Taurat itu begitu suci, sehingga tidak ada bagian yang terkecilpun yang akan ditiadakan. Namun dalam berbagai peristiwa yang kita baca di dalam Alkitab memperlihatkan, bahwa Yesus seringkali melanggar hukum Taurat Yahudi. Ia tidak mematuhi hukum yang mengatakan, bahwa orang harus mencuci tangan sebelum makan. Ia menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, meskipun hukum melarang perbuatan semacam itu. Ia bahkan dikutuk dan disalib dengan tuduhan sebagai pelanggar hukum.
Kita melihat, bahwa pada satu sisi, Yesus menganggap penting hukum itu di dalam kehidupan manusia. Namun pada sisi yang lain, Ia seolah-olah tidak peduli dengan hukum yang ada, dan bahkan Ia sendiri telah melanggarnya. Coba saja kita perhatikan : Seorang wanita yang tertangkap basah karena perjinahan jelas-jelas bertentangan dengan hukum agama. Ia dianggap seorang pendosa karena perbuatannya. Oleh Yesus, perempuan itu justru dibela-Nya dari kecaman orang banyak dan diampuni-Nya.
Kita tentu bertanya, apa arti semuanya ini ? Apakah hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah pemimpin yang plin-plan dan tidak konsisten, seperti penilaian orang-orang Farisi dan para ahli Taurat ? Apakah Yesus ini juga adalah “liberalis”, “sesat”, “tidak alkitabiah”, tidak memperdulikan tradisi-tradisi agama yang asli, murni dan suci, serta menafsirkan Kitab Suci dan Taurat sekehendak hati ? Atau, justru Ia mempunyai maksud dengan perkataan-Nya tentang hukum Taurat itu ? Mari kita lihat bersama.
Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, ada baiknya jika kita melihat dulu apa yang disebut hukum Taurat yang berlaku saat itu sehingga kita bisa mengerti maksud Tuhan Yesus dengan perkataan-Nya itu, dan agar kita tidak salah menafsirkan dan menerapkannya.
Orang-orang Yahudi menggunakan kata Hukum dengan 4 cara : Pertama, mereka memakai dan memahami Hukum dalam arti 10 hukum (Dasa Titah). Kedua, mereka memakai kata tersebut dalam arti 5 kitab yang pertama dalam Kitab Suci (Kejadian-Ulangan). Ketiga, Mereka juga memakai ungkapan kitab Hukum dan para nabi yang berarti seluruh Kitab Suci (PL). Keempat, mereka memakai kata hukum itu dalam arti Hukum Lisan/Hukum tertulis.
Pada masa hidup Yesus, arti yang ke-4 itulah yang paling umum digunakan, dan di dalam kenyataannya Hukum Lisan/Tertulis itulah yang paling banyak dikutuk dan dikritik oleh Yesus. Mengapa demikian ?
Orang Farisi itu amat ketat dan terikat pada hukum dan peraturan. Kehidupan mereka cuma punya dua sisi : hitam dan putih. Memenuhi peraturan berarti putih. Menyalahi aturan, apapun alasannya adalah hitam. Tak kenal kompromi. Tak ada kecuali. Setiap hukum harus diterjemahkan dalam hukum-hukum yang lebih kecil. Jika ada hal yang belum sempat diatur, maka dibuatlah peraturan baru.
Misalnya, kita lihat satu contoh kecil. Hukum Taurat mengatakan, bahwa hari Sabat haruslah disucikan, dan bahwa pada hari itu orang tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun. Hukum ini merupakan prinsip dasar. Namun hukum ini tidak menjelaskan pekerjaan yang macam apa sehingga dianggap tidak menyucikan hari Sabat. Lalu, para ahli Taurat membuat ketetapan-ketetapan dan ketentuan yang baru. Di dalam kenyataannya, mereka berhasil menemukan peraturan dan ketentuan yang jumlahnya sangat banyak. Apakah pekerjaan itu ? Ternyata mereka memasukkan hampir segala sesuatu ke dalam definisi pekerjaan, umpamanya : membawa beban pada hari Sabat. Selanjutnya mereka harus mendefinisikan juga apa yang dimaksud dengan beban, dst…dst, sehingga mereka memperdebatkan apakah pada hari Sabat orang boleh/tidak boleh mengangkat pelita ke tempat lain; atau apakah seorang penjahit melakukan dosa kalau ia berjalan di luar dengan sebuah jarum yang masih berada di jubahnya; atau apakah seorang wanita boleh/tidak boleh, memakai perhiasan atau rambut palsu; atau apakah orang boleh keluar rumah dengan gigi palsu atau tongkat penyangga pada hari Sabat; atau apakah orang boleh/tidak boleh, menggendong anak pada hari itu, dsb.
Menurut mereka, semuanya itu merupakan hal yang secara agamaniah bersifat pokok. Jadi bagi mereka, agama merupakan tata hidup dan peraturan-peraturan yang sangat legalistis. Sehingga tidaklah mengherankan bila pada jaman itu, orang-orang Yahudi menganggap agama sebagai soal memberlakukan beribu-ribu peraturan dan ketentuan hukum secara hurufiah, dan ini digunakan secara mutlak sebagai ukuran yang menentukan seseorang selamat/tidak di kemudian hari. Peraturan-peraturan baru itu ditambahkan ke dalam hukum Taurat dan dilegalisasi, dan setiap orang Yahudi harus mematuhinya. Jika tidak mematuhinya, berarti ia tidak selamat. Inilah penyimpangan mereka di dalam menerapkan hukum-hukum itu. Hukum tidak lagi ditempatkan sebagai sarana bagi manusia untuk mengenal dan menaati kehendak Tuhan, tetapi sudah menjadi tujuan. Sikap inilah yang disebut sebagai legalisme.
Jika Yesus mengatakan, “Lakukanlah dan ajarkanlah hukum Taurat”, maka bagi-Nya, hukum Taurat yang dimaksud bukanlah ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan tambahan yang dilegalisasi itu, melainkan 10 hukum (Dasa Titah) yang merupakan inti dan dasar dari semua hukum, yang seluruh maknanya dapat diringkas di dalam satu kata, yakni KASIH : Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada manusia. Hu-kum itu pulalah yang tidak hanya dinyatakan dengan perkataan, “Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu”, tetapi juga Ia nyatakan di dalam sikap hidup-Nya sehari-hari, bahkan Ia sendiri taat sampai mati di kayu salib (Salib merupakan lambang ketaatan-Nya kepada Allah dan kasih-Nya kepada manusia). Oleh sebab itu, bagi Yesus mematuhi hukum Taurat berarti mencari kehendak Tuhan di dalamnya, dan bahwa bila manusia menemukannya, ia harus mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mentaati kehendak Allah itu. 
Oleh sebab itu, Yesus mengatakan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (ayat 20)
Tuhan Yesus sendiri mengakui, bahwa para ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah orang-orang yang takwa. Ia tidak memandang rendah hidup keagamaan mereka. Mereka sungguh-sungguh menjalankan hidup keagamaannya dengan serius dan memperoleh rasa sukacita dengan menaati hukum-hukum itu, betapa pun sulitnya. Apapun yang tertulis dalam kitab suci, ditaati. Satu titik/komapun tak terlampaui. Mereka bahkan menambahkannya dengan hukum-hukum ciptaannya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang religius sampai ke jantung hati. Mereka adalah rohaniawan sejati, kaum ulama yang jempolan.
Bila benar demikian, mengapa Yesus justru mengatakan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari hidup keagamaan mereka….” Tidakkah cukup baik dan benar kehidupan keagamaan mereka ? Apanya yang tidak benar dalam diri orang-orang Farisi dan para ahli Taurat ?
Di sinilah kita perlu mengoreksi diri, dan perlu juga untuk mencurigai kebenaran kekristenan kita masing-masing. Sudah lebih benarkah kita dibandingkan dengan hidup kegamaan mereka ? Sebaliknya, mungkin kita sering menganggap diri kita lebih baik dan lebih benar dari orang lain di sekitar kita. Kita seringkali menganggap diri kita lebih suci dibandingkan orang lain, sehingga tanpa disadari, kita justru telah berlaku sama seperti orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mengapa ?
Karena, ketika mendapatkan orang berdosa, mereka bukan mengampuni dan mengajaknya untuk berbalik kepada Allah, tetapi justru menghukum dan menjadi hakim atas mereka. Karena, ketika orang banyak datang kepada Yesus, mereka bahkan memusuhi-Nya. Karena, ketika sesamanya ditolong oleh Yesus dari kelaparan dan penyakit, mereka justru mengecam-Nya. Mengapa ? Hukum yang mereka buat tidak menyediakan tempat bagi orang-orang berdosa. Hukum yang mereka tambahkan tidak menyediakan tempat bagi orang-orang yang menderita. Justru sebaliknya, hukum-hukum yang mereka buat itu telah menjerat orang kepada kewajiban dan agama hanya menjadi belenggu yang memenjarakan. Orang tidak lagi merendahkan diri kepada Allah, tetapi justru memegahkan diri di hadapan Allah. 
Hukum Taurat masih berlaku di dalam kehidupan kita manakala kita menempatkan itu sebagai sarana dan bukan tujuan, karena “Taurat diciptakan untuk manusia dan bukan manusia untuk Taurat.”
Di sinilah, setiap orang percaya perlu dan seharusnya belajar terus-menerus untuk membangun kehidupan spiritualitasnya dengan melakukan disiplin rohani. Disiplin rohani merupakan cara/sikap seseorang untuk bergaul dan mengenal Allah, baik itu dalam hal beribadah maupun menaati dan mematuhi perintah Tuhan. Setiap orang percaya seharusnya berusaha untuk terus-menerus melakukan yang terbaik dalam menjalankan kehidupan imannya (Filipi 3 : 4 – 16). 
Namun setiap orang haruslah juga berhati-hati ketika ia menjalankan disiplin rohani. Sebab bisa saja ia menjadi seorang yang legalisme. Menjadi sombong rohani dan menganggap bahwa apa yang telah mampu dicapainya merupakan ukuran untuk mengukur sikap hidup orang lain dan menghakiminya. Bukankah ini sering terjadi juga dalam kondisi hidup di jaman modern sekarang ini ?
Sebenarnya, persatuan dan kesatuan orang percaya menjadi pecah karena adanya sikap yang sombong rohani. Mereka yang menganggap dirinya telah berhasil dalam menjalankan kehidupan barunya sebagai seorang pengikut Kristus, dengan mudah menuduh bahwa seseorang tidak bisa diselamatkan kalau tidak terlebih dahulu dibaptis selam atau Roh Kudus, dan sebagainya. Ini sangat jelas terlihat, misalnya upaya sekelompok orang Kristen yang hendak mengkristenkan orang yang sudah kristen. Satu sisi, adalah sesuatu yang baik bila kita mengajak orang yang sudah memiliki iman kepada Kristus tapi dalam kehidupan nyata hal itu tidak nampak untuk mengingat kembali bahwa kita harus hidup dalam pertobatan, bukankah hal ini adalah mulia ? Hanya saja, di sisi lain, sikap itu telah terlalu jauh dengan mendiskreditkan pihak lain. Sikap tersebut didukung oleh legalisme yang sempit, yang hanya melahirkan kesombongan rohani. Seharusnya disiplin rohani justru melahirkan sikap yang bergaul dan semakin mengenal Tuhan. Yang perlu dibangun oleh setiap orang percaya adalah spiritualitasnya, bukan legalismenya.


Read more...

YESUS YANG KUTAHU

Bacaan Alkitab : Matius 5 : 20
Remaja yang dikasihi Tuhan,
Jika saat ini Yesus ada di tengah-tengah Saudara, apakah Saudara akan mengenali-Nya ? Mungkin Saudara akan menjawab, “Ya, saya akan mengenal Dia. Lihatlah bekas luka-Nya !” Atau mungkin Saudara sama sekali tidak mengenal-Nya. Sebab bukankah Dia adalah Allah yang Mahatinggi, penuh kuasa dan kebenaran.
Berbagai tanggapan dapat saja muncul sekitar apakah saya dapat mengenal-nya atau tidak ! Namun bila kita memperhatikan respon para murid ketika Yesus telah bangkit dan berada di tengah-tengah mereka, ternyata mereka tidak dapat mengenal-Nya dengan baik. Padahal mereka sudah bersama-sama Yesus selama 3 tahun lamanya. Mereka tidak hanya mengenal-Nya secara fisik, tetapi juga tidak sepenuhnya mengenal setiap ajaran yang diberikan-Nya.
Kita patut bersyukur, sebab orang-orang modern saat ini telah memiliki Alkitab. Terutama kitab-kitab Injil, yang berisi kesaksian para murid dan para penulis sendiri tentang siapa Yesus. Melalui kesaksian itulah, kita dapat belajar semakin banyak, bukan dalam hal fisik-Nya, tetapi apa yang telah diajarkan-Nya bagi manusia di dunia ini.
Salah satu hal yang pernah Yesus ungkapkan orang banyak ketika Ia sedang berkotbah di atas bukit, demikian : “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5 : 20) Perkataan Yesus itu dapat dibagi dua hal yang saling berkitan satu sama lain.
Pertama, Ia mengatakan bahwa setiap orang haruslah hidup benar, lebih dari apa yang dapat dilakukan oleh para cendekia agama yang sangat dikagumi saat itu. Mengapa Yesus berkata demikian ? Bukankah para cendekian agama adalah orang-orang penuh kebenaran, yang tidak hanya rajin membaca kitab suci, tetapi juga yang mampu mengamalkan aturan-aturan dalam hukum Taurat ? Mengapa Ia membandingkannya dengan orang-orang yang begitu dikagumi oleh masyarakat Yahudi saat itu ?
Kita tahu, bahwa hidup keagamaan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tidak bisa diragukan lagi kesalehannya. Betapa tidak ! mereka berdoa dan bersembahyang 3 kali sehari, bahkan lebih. Perpuluhan mereka lakukan seperti aturan yang ada. Selain itu, mereka berpuasa dengan rajin dan tidak pernah lupa untuk selalu membawa kitab syuci ke manapun mereka pergi. Bila kita dibandingkan dengan mereka, rasanya kita sama sekali tidak ada apa-apanya. Hidup kesalehan kita jauh daripada mereka. Sebab kita menyadari, bahwa kita menjalankan hidup keagamaan kita banyak yang bolong-bolong. Jika demikian, mengapa Ia berkata demikian ?
Yesus tidak berkata agar kita hidup lebih baik, tetapi hiduplah lebih benar. Coba perhatikan cara hidup mereka ! Mereka lebih mengutamakan peraturan ketimbang rasa kasih terhadap sesama. Buktinya, mereka justru mengkritik Yesus ketika Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Hati dan pikiran mereka punh kecurigaan terhadap tindakan Yesus. Padahal mereka tahu, bahwa dalam kitab suci telah dinubuatkan tentang Mesias yang akan datang di tengah-tengah mereka, dan Mesias itulah yang akan mngemban misi Bapa untuk menyelamatkan umat manusia dari hukuman dosa. Memang, mereka rajin beribadah, tetapi mereka tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Itulah sebabnya, Yesus menekankan hidup benar dan bukan sekedar menjalankan aturan keagamaan, yang bisa saja membelokkan kita dari prinsip utama hidup kristiani, yakni kasih. Hukum kasih itu harus seimbang, antara kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia. Hidup yang benar itu adalah menjalin hubungan vertikal dengan Allah dan aplikasi yang nyata dengan mengasihi sesama, seperti mengasihi diri sendiri.
Kedua, Yesus mengatakan bahwa bila kita menjalankan hidup yang lebih benar, maka Kerajaan Sorga dapat diraih. Ini merupakan suatu jaminan dari Allah sendiri. Ia sudah memberikan anugerah keselamatan itu dalam diri Yesus Kristus melalui jalan salib yang penuh penderitaan. Keselamatan itu adalah anugerah, pemberian yang cuma-cuma, tidak dapat diperoleh dengan cara mengusahakannya (Efesus 2 : 8 & 9). Sekalipun demikian, rasa syukur menerima anugerah yang cuma-cuma itu harus benar-benar diwujudkan, tidak sekedar kita beriman saja. Sebab hidup benar itu merupakan tindakan yang nyata dan bukan sekedar sesuatu yang kita simpan dalam hati. Sebab bisa saja seseorang dikatakan beriman, tetapi mutu hidupnya tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara iman. Sebab untuk apa ia mengaku beriman dan telah mendapat keselamatan, namun masih tetap hidup dalam kehidupannya yang lama penuh dosa.
Di sinilah, rasa syukur atas anugerah itu harus benar-benar dinampakkan. Yesus tidak sekedar berbicara soal kasih, tetapi Ia sendiri menunjukkan bagaimana hidup penuh kasih itu dijalankan. Ia mengasihi orang banyak bukan sekedar memberikan berkat dan kesembuhan, tetapi juga Ia bersedia memberikan diri-Nya sebagai korban tebusan bagi umat manusia. Bahkan di dalam penderitaan-Nya itu, ia tidak mengeluarkan kata-kata penuh amarah dan makian. Ia justru berdoa agar Allah Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka sedang perbuat.
Itulah Yesus, antara perkataan-Nya dengan tindakan-Nya selaras. Ia tidak seperti orang yang memakai topeng, penuh sandiwara dan kebohongan. Ia tidak juga seperti bunglon, yang mudah berubah. Namun ia punya prinsip yang terus dipegang dan dijalankan-Nya. Demikianlah Yesus, Tuhan kita, telah memberikan teladan demikian. Paling tidak, kita telah mengetahui sedikit dari apa yang Ia ajarkan dan lakukan. Masalahnya adalah, kapan kit mulai melakukan hidup benar itu ?

Read more...

About This Blog

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP