Tampilkan postingan dengan label Renungan Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Umum. Tampilkan semua postingan

Pentingnya Peran Orangtua Dalam Pendidikan Spiritual Anak

>> Rabu, 18 Juli 2012

Ulangan 6 : 4 - 9

Seorang bapak mengeluhkan anaknya yang lebih hafal menyanyikan lagu-lagu CHERYBEL, SMASH, ARMADA ketimbang lagu-lagu rohani. Apalagi anaknya berdoa dengan cara yang dianggap tidak lazim, mengikuti kebiasaan yang dilakukan baby sitternya. Ia marah dan sang baby sitter dipecatnya karena dianggap telah salah dalam mengasuh anaknya. Repotnya, Baby sitter yang baru justru lebih saleh dan rajin beribadah. Ia jadi bingung bagaimana harus mendidik anaknya, sedangkan ia dan istrinya sangat sibuk dengan pekerjaan dan tugas-tugas lain.

Itulah masalah yang sering dihadapi keluarga muda saat ini. Tingginya mobilitas dan bergesernya prioritas dalam hidup telah menjadi kendala terbesar dalam upaya pendidikan iman anak. Padahal, kita menyadari sepenuhnya, bahwa keluarga inti (ayah, ibu dan anak-anak) merupakan tempat paling utama dan pertama bagi pendidikan spiritual anak. Melalui orangtualah, seorang anak, dari sejak dalam kandungan akan belajar dan menyerap segala pengalaman iman orangtuanya, menjadi pondasi yang kokoh bagi tumbuh kembang spiritual anak. Dengan kata lain, peran orangtua sangatlah penting bagi kehidupan anak sejak dini. 

Itulah yang ingin ditegaskan Ulangan 6:4–9. Konteks tulisan itu adalah masa di mana umat Israel telah bebas merdeka dari negeri perbudakan dan sedang dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian. Jarak yang harus ditempuh dari Mesir ke kanaan sekitar 150 km, atau sekitar 2,5 jam dengan kendaraan atau minimal 2 minggu dengan berjalan kaki. Namun, mengapa mereka hanya berputar-putar di sekitar padang gurun Sin dan Paran, dan menghabiskan waktu sekitar 40 tahun menuju negeri Kanaan?

Sejarah memperlihatkan, bahwa sejak Yusuf, keluarga besarnya dan seluruh keturunannya mendiami Gosyen di Mesir selama hampir 300 tahun, maka banyak kemungkinan yang terjadi. (1). Pembauran, entah dalam budaya, pernikahan, dan juga ideologi beragama - dari paham monoteistik yang dipegang teguh umat Israel dengan paham politeistik bangsa Mesir. Artinya, pembauran itu dapat saja melemahkan nilai-nilai iman yang paling utama. (2).Bermental budak setelah mereka diperlakukan demikian oleh para penerus Firaun yang tidak lagi mengingat jasa-jasa Yusuf. Atas kondisi demikianlah, maka melalui Musa, Tuhan menegaskan : 
  1. “Dengarlah, hai orang Israel : TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (ayat 4 & 5) Mereka diingatkan, bahwa Tuhan yang Esa itulah yang telah membebaskan mereka dari negeri perbudakan dan menjadi bangsa yang benar-benar telah merdeka untuk mendiami Tanah Perjanjian. Mereka harus mengabdi hanya kepada-Nya, yang telah memelihara dan menyertai umat selama ini dengan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Itulah tantangan mereka. Sebab hidup di tengah-tengah keyakinan yang berbeda bisa saja melemahkan iman mereka dan melupakan Tuhan yang telah berperkara dalam hidup mereka. Bagi kita yang hidup dalam zaman globalisasi saat ini, kesetiaan dan kesungguhan berpegang dan memelihara iman kepada Tuhan Yesus adalah mutlak bagi setiap orang Kristen. Jika tidak, maka kita bisa menjadi orang-orang yang terhilang di tengah-tengah derasnya pengaruh nilai-nilai dunia yang destruktif dan ajaran iman yang berbeda. 
  2. “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (ayat 6 & 7) Inilah sebuah penegasan, bahwa orangtua berperan penting dalam membangun kehidupan spiritual anak-anaknya, yang harus menjadi perhatian utama untuk dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan, dalam waktu dan keadaan apa pun. Peran itu tidak bisa digantikan oleh pihak mana pun, termasuk gereja gereja (Pendeta dan Guru sekolah Minggu). Betul, bahwa gereja adalah wadah bagi pembinaan iman umat, namun gereja tidak bisa mengambil alih peran tersebut. Gereja hanya memiliki waktu 2 jam dalam seminggu untuk berinteraksi dengan anak, sedangkan 130 jam dalam seminggu anak-anak berada di rumah. Selebihnya, 36 jam dalam seminggu anak-anak berada di sekolah. Jadi, sekitar 77% waktu yang ada bagi anak-anak untuk berinteraksi bersama dengan keluarga, khususnya orangtuanya. Di sinilah, semestinya orangtua menyadari betapa pentingnya peran mereka dalam membangun pondasi iman anak. Tugas itu tidak dilakukan ketika anak sudah lahir, melainkan jauh sebelumnya, yakni ketika kita menentukan calon pendamping hidup dan dalam merencanakan pernikahan. Bahkan kakek-nenek pun tidak bisa mengambil-alih peran tersebut. Mereka hanyalah pemeran pembantu. Semestinya, orangtualah (ayah dan ibu) yang menjadi pemeran utama dan bertanggung-jawab dalam pembentukkan nilai-nilai iman anak-anak. Keluarga inti (ayah, ibu dan anak-anak) menjadi tempat paling utama dan pertama (kelas katekisasi) dalam pembentukan spiritual setiap anggotanya. 
  3. “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (ayat 8 & 9) Keteladanan kasih, itulah cara yang paling efektif dan tepat dalam mendidik iman anak-anak. Di setiap pintu gerbang atau palang pintu rumah orang Yahudi selalu ada “tanda” yang bertuliskan “Tuhan itu Esa. Tuhan itu kasih.” Ketika memasuki rumah, mereka selalu menyentuh “tanda” itu, sebagai isyarat bahwa dalam segala apa pun mereka selalu mengingat dan mengutamakan untuk memberlakukan kasih Allah di dalam rumah itu lebih dari urusan yang lain. Tanda itu pula yang diikatkan pada tangan mereka. Mengapa? Sebab jika kita mengajarkan anak-anak dengan kekerasan melalui tangan kita, maka kekerasan itulah yang menjadi “bad role model”, dan bukan cinta kasih, yang akan terus diingat dan diberlakukan lagi bila mereka telah menjadi orangtua di kemudian hari. Jadi, keteladanan karena kasih Allah dalam Kristus Yesus haruslah menjadi dasar dan pondasi setiap orangtua dalam mentransformasikan iman dan moral hidup kepada anak-anak. 
Sekali lagi, tanggung jawab pendidikan iman yang paling utama dan pertama adalah para orangtua.

Read more...

SAKIT : JALAN MENUJU PENCERAHAN SPIRITUAL

>> Minggu, 06 Desember 2009

PENGANTAR
Andre, seorang pemuda yang aktif dalam pelayanan, mendadak limbung ketika mendengar dari dokter yang memeriksanya, bahwa dirinya terkena kanker ganas. Vonis itu dengan segera menghancurkan seluruh harapan yang sedang dibangunnya bersama istri dan puterinya yang baru berusia 4 tahun. Terbayang oleh Andre dan keluarganya apa yang harus dilakukan setelah itu. Berbagai pemeriksaan dan pengobatan harus dijalani dari waktu ke waktu entah sampai kapan hal itu akan berakhir. Itu berarti pola dan prioritas hidup mereka berubah mendadak. Berbagai perasaan negatif pun mulai menggerogoti mereka selain dari sakit itu sendiri.

Siapakah orangnya yang ingin menderita sakit tertentu dalam hidupnya ? Tidak ada ! Tidak ada seorang pun yang pernah bermimpi apalagi mengharapkannya. Justru sedapat mungkin, sakit-penyakit dihindari. Dan kalaupun orang terpaksa mengalaminya, pilihan kita adalah sakit biasa-biasa saja dan segera sembuh kembali. Hanya, siapa yang dapat menduga, bahwa dirinya bakal tidak menderita sakit yang bisa mengubah total jalan hidupnya ? Tidak seorangpun yang tahu. Sakit-penyakit, diakui atau tidak, diterima atau tidak, merupakan bagian tak terpisahkan dalam hidup manusia. Siapa pun bisa jatuh sakit.

Orang disebut sakit bisa dalam 2 hal. Pertama, sakit secara psikologis, seperti merasa dipermalukan, direndahkan dsb. Dalam interaksi sosial, konflik antar sesama mau tidak mau memposisikan salah satu atau dua-duanya dalam kondisi seperti itu. Namun ada sakit psikologis yang dianggap jauh lebih parah, yakni tergganggunya kondisi kejiwaan seseorang, bisa terjadi karena genetik (misalnya : down syndrom) atau oleh tekanan kondisi hidup tertentu.

Kedua, sakit secara fisik. Konon, seiring semakin modernnya dunia sekarang ini, berbagai penyakit pun ikut menjadi semakin canggih, seperti kanker, stroke, heart attack (serangan jantung), degeneratif dan berbagai penyakit tertentu karena terinfeksi oleh virus baru yang mematikan. Selain itu, ada juga orang-orang tertentu yang menjadi sakit karena faktor genetik, yakni suatu penyakit karena kelainan bawaan sejak lahir yang muncul pada usia tertentu. Setelah melalui pemeriksaan medis, dokter menyebutnya “normal aging changes”. Jika sudah demikian, hidupnya mendadak berubah. Si penderita harus menjalani rutinitas baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam tempo waktu yang tidak bisa diprediksi, seperti berbagai pemeriksaan, terapi, dan pengobatan lainnya.

Berbagai sakit-penyakit itu menghantui siapa saja dan menjadi momok yang sangat menakutkan. Selain memenderitakan, sakit itu sendiri dapat menyebabkan “penyakit” baru yang menambah beratnya beban penyakit yang diderita dan semakin menggerogoti dan melemahkan kondisi kita, yakni keputus-asaan, kepercayaan diri, semangat hidup dan juga iman. Bahkan tidak jarang, kehidupan keluarga kitapun akan berubah menjadi “kelabu” karena menganggap bahwa “hantu” itu begitu menakutkan dan menghancurkan. Itulah sebabnya, seberapa jauh sakit-penyakit dapat memberikan pengaruh yang positif dalam hidup kita, itu tergantung dari cara pandang kita terhadap sakit yang kita derita. Jika paradigma kita begitu negatif terhadap sakit-penyakit, maka kesusahan semakin terasa menyakitkan, sehingga rasanya sangat sulit bagi penderita untuk memperoleh makna yang lebih dalam bagi perjalanan hidupnya di depan.

Jika paradigma kita positif terhadap sakit-penyakit, maka kesusahan dapat berganti menjadi suatu sukacita. Sebab ternyata, sakit-penyakit dapat mendorong orang mengalami perjalanan spiritual yang luar biasa. Dalam sakit, orang dapat merasakan pencerahan baru, mengalami metafora kehidupan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?

BELAJAR DARI TOKOH ALKITAB
Contoh pertama adalah Naaman (II Raja-Raja 5 : 1 – 16), seorang panglima raja Aram, yang telah memenangkan peperangan sebagai pemberian dari Tuhan atas bangsa Israel. Ketaatan Naaman diproses oleh Tuhan sendiri, sehingga Namaan mengenal tentang kuasa Allah yang luar biasa itu.

Berawal dari keadaan dirinya yang sakit kusta, penyakit yang sangat memalukan padahal dia adalah seorang terpandang dan disayang rajanya. Sangat berat Namaan untuk menanggung perasaan itu.

Tentunya bukan suatu kebetulan, bahwa salah seorang budaknya, seorang gadis, adalah seorang yang mengenal Tuhan, yang menyarankan Namaan untuk pergi ke Israel dan bertemu dengan seseorang yang pasti akan menyembuhkannya.

Tidak mudah untuk mendengar perkataan orang yang jauh lebih rendah kedudukan darinta, namun Naaman menurut saja sekalipun dengan menahan harga dirinya. Mungkin baginya, inilah jalan terakhir setelah berbagai upaya yang gagal untuk menyembuhkannya. Maklumlah, sebagai seorang yang memiliki kedudukan penting, ia tentu memiliki tabib pribadi, tabib yang terkenal dan dianggap terhebat di negrinya. Maka rencananya untuk pergi ke Israel disampaikan olehnya kepada rajanya dan menyetujuinya.

Maka sampailah ia ke raja Israel. Namun raja Israel punya pikiran lain. Ketidakmampuannya untuk menyembuhkan Naaman membuatnya berkabung. Ia kuatir. Malah berpikir, karena kekalahannya terhadap Aram, sang raja Israel merasa seakan-akan dirinya dilecehkan. Namun Elisa mendengar tentang hal ini, sehingga ia meminta agar Naaman menemuinya.

Naaman masih menurut. Hanya saja, ketika Elisa menyampaikan cara untuk menyembuhkan, Naaman menjadi sedih dan sekaligus marah. Ia pikir apa faedahnya mandi di sungai Yordan. Ia merasa dilecehkan. Sebab pikirnya, di Aram terdapat banyak sungai yang jauh lebih bagus dan airnya jernih, tidak seperti sungai Yordan yang keruh dan kotor. Ia tidak hanya ragu, tetapi segera bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, pada pegawainya mengingatkannya, yang membuat Naaman berpikir ulang dan melakukan juga apa yang diperintahkan Elisa. Di saat Naaman memilih untuk berlaku taat itulah, sekalipun nampaknya ia masih meragukannya, Naaman mengalami pertolongan Tuhan yang menyembuhkannya. Demikian pendapatnya : "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini !” (II Raja-raja 5 : 15)

Naaman mengalami perjalanan pencerahan iman, melalui tekadnya untuk belajar berlaku taat, bersikap rendah hati, sehingga pada akhirnya ia meyakini keberadaan Tuhan yang berkuasa atas hidup manusia dan dunia ini. Atas keyakinan itulah, ia tulus menyatakan rasa syukurnya.

Contoh kedua adalah Ayub. Dia tercatat sebagai seorang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayub 1 : 1). Namun ketika sedang asyik-asyiknya menikmati segala kesuksesannya, Ayub tersentak dan hidupnya berubah menjadi “nelangsa” karena berita buruk yang diterimanya : seluruh hartanya ludes, kesepuluh anaknya mati seketika, dirinya menderita barah yang busuk dari kaki hingga kepalanya (Ayub 2 : 7), istrinya meninggalkannya dan orang-orang mencemoohnya sebagai seorang pendosa. Tidak ada yang tersisa, selain ia masih hidup di dalam beratnya awan kelabu yang menggelayutinya. Jadilah dia seorang yang mengalami “kesendirian” yang “emptyness” (kekosongan makna hidup).

Terhadap penderitaannya itu, pada awalnya Ayub masih tetap berkeyakinan : "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN !" (Ayub 1 : 21) Seberapa lama ia tetap bertahan dalam keyakinan itu ? Pengalaman tidak menyenangkan itu lambat laun mendorongnya untuk menuntut keadilan dari Allah. Dia menunjukkan sikap protesnya dan tidak dapat menerima perlakuan tidak adil tersebut kepada Tuhan. Sebab menurutnya, bahwa selama hidupnya ia tidak pernah berbuat yang keliru, tidak berbuat kejahatan apalagi menjauhi Tuhan.

Namun sikap protesnya itu justru membawanya kepada pergumulan yang sangat berharga. Dalam pergumulan itu, Ayub bertanya-jawab dengan Allah tentang banyak hal. Dan akhirnya, ia menemukan jawabnya. “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42 : 5)
Apa artinya ? Ayub telah mengalami perjalanan rohani luar biasa; perjalanan pencerahan spiritual yang membuka paradigma iman, bahwa perjumpaan dengan Allah tidak mungkin terjadi bila kita sendiri tidak membuka diri untuk menerima koreksi dan pembaruan sehingga kita dapat mengalami-Nya dalam hidup. Ya, kondisi hidup kita dapat menjadi sarana bagi kita untuk mengenal dan mengalami Allah yang luar biasa.
Ternyata, pergumulan Ayub telah membuka mata hatinya terhadap nilai luhur yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Rasa sakit, penderitaan dan kesusahan yang dialaminya membawanya kepada suatu perjalanan pencerahan. Ayub mengalami metafora iman, yakni mengalami Allah.

Bagaimana dengan pengalaman rohani Paulus ? Biasanya, kita sering melihat dan menyebutkannya sebagai figur yang hebat, tegar dan mampu memberikan warna tersendiri dalam kekristenan. Namun pernahkah kita membayangkan, bahwa sebenarnya Paulus menderita suatu penyakit tertentu yang sering mengganggunya dalam melaksanakan tugas panggilannya sebagai seorang rasul ?

II Korintus 12 : 1 – 10 menyebutkan ada “duri” dalam dagingnya yang membuat Paulus benar-benar bergumul. Ia berseru kepada Tuhan sampai 3 kali agar “duri” dalam dagingnya diangkat (ayat 7), namun Tuhan tidak menyembuhkannya. Artinya, Paulus harus tetap mengalaminya sepanjang hidupnya. Lalu apa arti dari kata itu ?
Kata “duri” menyampaikan ide mengenai kesakitan, kesukaran, penderitaan atau kelemahan fisik. “Duri” Paulus tidak diterangkan artinya, tetapi itu bukan pencobaan untuk berdosa (bdk. Galatia 4 : 13 – 14). Bisa jadi, “duri” yang dimaksudkan adalah sakit mata (Galatia 4 : 15), malaria atau cacat jasmaniah karena dilempari batu. Apapun itu, “duri” Paulus tentu sangat mengganggunya dalam beraktifitas, khususnya dalam melaksanakan tugas panggilannya mengabarkan Injil, berkotbah, menulis surat kepada orang-orang Kristen di berbagai tempat dsb. Yang menarik adalah, dalam keterbatasan dan kelemahannya, Paulus tetap berkarya. “Duri” itu sama sekali tidak dilihat sebagai suatu gangguan, malah sebagai pelajaran rohani untuk mencegahnya menjadi sombong atas penyataan-pernyataan (vision/penglihatan) yang telah dia terima. “Duri” itu menjadi pendorong bagi dirinya untuk merasakan pengalaman spiritual, sehingga dia bergantung pada kasih karunia ilahi (II Korintus 12 : 9 – 10 : “’Tetapi jawab Tuhan kepadaku : "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”’)

CATATAN TENTANG PERJALANAN ROHANI NAAMAN, AYUB & PAULUS
Ketiga pengalaman rohani para tokoh Alkitab di atas memberikan pembelajaran bagi kita tentang perjalanan rohani yang mereka alami menuju pencerahan spiritual ke tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?

1. Naaman, melalui sakit yang dideritanya, telah membawanya kepada perjalanan pencerahan dari seorang yang tidak percaya menjadi percaya kepada Allah dan mengakuinya dengan segenap hati.

Apakah proses itu berjalan singkat ? Tidak ! Karena penderitaan yang disebabkan oleh sakit, setiap orang terpacu untuk menjadi sembuh. Hanya saja, cara orang ingin menjadi sembuh tentu bermacam-macam. Bagi Naaman sebagai seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan disayang rajanya, mencari tabib yang paling jago dan populer bukanlah hal mustahil.

Namun mengapa ia sedia mendengarkan dan menerima anjuran budaknya ? Ini fase pertama perjalanan rohani Naaman, yakni berani bersikap rendah hati menjadi modal penting. Baginya, pangkat, harga diri dan segala kemampuannya untuk mencari tabib yang sangat hebat bukanlah patokan untuk menjadi sembuh. Ia harus berani melawan semuanya demi mencapai kesembuhan.

Kedua, Naaman belajar untuk bersikap sabar. Hal kedua ini pun tidak mudah. Ketika segala konsentrasi habis demi memikirkan kondisinya yang sakit dan memalukan, maka tidak ada waktu dan ruang untuk bersabar. Orang sakit sering menjadi tidak sabar(an) untuk menerima kenyataan. Yang sering muncul adalah keluhan, amarah dan segala kejengkelan meliputi hidupnya ketika penyakit itu tidak segera teratasi.....

Ketiga, Naaman telah belajar, bahwa pemulihan hanya mungkin ketika ia merasa ditelanjangi oleh hal-hal di luar akal-logika. Sebab ternyata, penyembuhan bukan miliknya, tetapi semata-mata pemberian Tuhan melalui cara-Nya yang ajaib. Kehadiran Elisa yang menyarankannya untuk mandi di sungai Yordan sama sekali di luar harapannya. Namun ia melakukannya juga hal yang dianggap sangat sepele itu. Justru dengan cara itulah, ia menemukan cahaya hati....

Ya, Tuhanlah cahaya hatinya, sehingga tumbuh keyakinan padanya melalui pernyataan yang diungkapkannya : "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.....” (II Raja-raja 5 : 15a) Yang perlu baginya di kemudian hari adalah seberapa kuat dan tulusnya ia tetap menjaga dan memelihara keyakinan itu. Semestinya, apapun yang terjadi, keyakinan itu tetap dipegang teguh. Sebab telah terbukti bahwa kuasa Allah sungguh luar biasa, yang tak tertandingi oleh kekuatan apapun di dunia ini.

Muara dari perjalanan rohaninya adalah rasa syukurnya dengan kesediaannya untuk memberikan sesuatu kepada hamba-Nya. Persembahan menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur, yang juga mengajarkan hal penting, bahwa itu bukan bentuk untuk membayar kesembuhan yang telah diterimanya, tetapi semata-mata karena ketulusannya untuk bersyukur.

2. Perjalanan spiritual Ayub adalah ujian terhadap keyakinannya, bahwa “Allah yang memberi, Allah juga yang mengambil” dari semua yang dimilikinya dan “tetap bersikap saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan”, seperti yang menjadi ciri kepribadiannya. Kedua hal itulah yang harus dipertahankan dan dijaganya selama ia mengalami awan kelabu yang memenderitakannya.

Mudahkah ? Tidak ! Orang yang merasa dekat dengan Tuhan sering beranggapan bahwa Tuhan memberikan segala hal yang diuanggap baik dan sesuai keinginannya, seperti kesehatan prima, berkat yang melimpah, segala kesuksesan dan berkat yang tidak pernah berhenti mengalir. Cara berpikir superior itu bisa menjadi senjata bagi dirinya sendiri untuk mengalami kejatuhan iman. Contoh yang pasti adalah bangsa israel. Karena merasa dirinya sebagai bangsa pilihan Tuhan, namun ketika hal itu tidak tercermin dalam kehidupannya, maka Tuhan berhak untuk mengambil “status” itu. Kesombongan rohani menjadi kunci dari kejatuhan manusia.

Bermula dari sikap protesnya kepada Tuhan atas apa terjadi dalam hidupnya. Semua malapetaka dalam hidupnya tidak sejajar, di luar hukum kausalitas. Jika orang salah lalu dihukum itu wajar, ada sebab-akibat, seperti kata pepatah “Tidak ada asap jika tidak ada api”. Ayub merasa, apa yang terjadi di dalam hidupnya di luar kewajaran. Pikirnya, semestinya orang yang saleh dan baik itu hidupnya lurus dan selalu berhasil.

Benarkah demikian ? Tidak ! Hukum kausalitas selalu berlaku dalam hidup kita. Namun juga, ada banyak hal dalam hidup yang berada di luar hukum kausalitas. Artinya, ada banyak kejadian dalam hidup kita yang di luar hukum sebab-akibat. Dalam konteks itulah, keyakinan kita benar-benar diuji, apakah kita tetap bersikap rendah hati dan menyerahkan segala perkara kepada Tuhan…

Protes yang diajukan Ayub karena ia merasa dirinya diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. Sikap protesnya memperlihatkan, bahwa hubungannya dengan Tuhan bukanlah pura-pura. Ayub tidak memakai topeng dalam berhadapan dengan Tuhan. Justru dengan sikap protesnya tersebut telah membuka babak baru dalam hidupnya, yakni mengalami Allah secara pribadi. Ia mengalami Allah bukan dari pendapat orang…. Mungkin orang punya keyakinan bahwa Tuhan itu baik menurut kesaksian orang lain. Namun apakah ia sendiri bisa tetap berkata dan meyakini, bahwa Allah itu baik ketika hidupnya berjalan tidak baik ? Semestinya ia tetap berkata begitu sekalipun segala kesusahan dideritanya bila ia benar-benar meyakini Tuhan…..

Dalam protes itu, keberadaan diri dan cara pandangnya ditelanjangi. Artinya, Ayub harus menyadari bahwa ketika mengajukan protes kepada Tuhan, ia sendiri harus membuka diri untuk dikoreksi dan bersedia untuk introspeksi diri. Ini yang sulit. Rata-rata, ketika kesusahan terjadi, orang hanya melihat dirinya sendiri; segala yang terlihat adalah dirinya, kesusahannya, kesulitannya…. Ia sulit untuk mengerti dan memahami keberadaan pihak lain, dan sebaliknya ia selalu menuntut orang lain untuk mengerti dan memahami keberadaan dirinya……

Ayub mengalami fase itu dan ia telah berhasil mengalahkan keakuannya itu. Inilah perjalanan pencerahan rohaninya, safari spiritualnya... Ayub harus bisa mengalahkan cara berpikirnya yang keras kepala itu... Sebab memang lawan terberat adalah bukan pihak lain, tetapi dirinya sendiri.

Sejak mengalami pencerahan spiritual, hidup Ayub mengalami pemulihan dari Tuhan : hartanya berlipat ganda; ia punya sepuluh anak-anak (7 orang laki-laki dan 3 orang perempuan), di mana mereka (khususnya anak-anak perempuannya) dikatakan tercantik di negerinya. Di sini tidak dijelaskan Alkitab anak-anak itu muncul dari istrinya yang terdahulu atau yang baru, sehingga kita tidak boleh menafsirkannya secara ekstrim. Sebab tidak jarang, kasus ini dipakai kaum pragmatis untuk mencari penyelesaianannya atas masalah hidupnya demi mengejar pemulihan dengan menikah lagi sebagai jalan keluarnya.

Berapa lama Ayub mengalami pemulihan ? Alkitab menyebutkan begini : “Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.” (Ayub 42 : 16) Perhatikan kata “sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya...” Apa artinya ? Kata “masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya” bukan untuk menunjukkan umur Ayub, tetapi kehidupan Ayub setelah mengalami pemulihan. Di situ juga memperlihatkan, bahwa pemulihan tidaklah terjadi secara instan, tetapi merupakan suatu proses yang harus dijalani. Kebesaran hati sangat diperlukan untuk menerima proses pemulihan yang memakan waktu sehingga hidup kita happy ending.

3. Berbeda dengan pengalaman iman Naaman dan Ayub, Paulus justru tidak mengalami pemulihan, dalam arti ia tetap menderita sakit sekalipun sudah mengajukan permohonan untuk disembuhkan. Pemulihan Paulus dalam konteks lain. Bagaimana perjalanan spiritual Paulus dalam menghadapi sakitnya ?

Perjalanan rohani Paulus sudah dimulai ketika ia “bertemu” dengan Tuhan Yesus dalam perjalanannya menuju Damsyik (Kisah Rasul 9 : 3 – 9). Perjumpaan dengan Tuhan itu mengubah jalan hidupnya secara luar biasa. Konon setelah pertobatannya itu, ia “bersembunyi” di Tarsus (Kisah Rasul 9 : 30), tempat kampung halamannya ketika masih kanak-kanak (Kisah Rasul 22 : 3). Setelah beberapa waktu lamanya, barulah ia tampil dengan melakukan perjalanan misinya ke berbagai daerah dan menulis surat kepada jemaat-jemaat bimbingannya. Kitab Roma menjadi karyanya yang luar biasa, di mana inti teologia Paulus sangat jelas dipaparkan di situ.

Dalam konteks “pemulihan” yang dialaminya, Paulus punya pengalaman tersendiri. Ternyata, sekalipun ia seorang rasul dan punya karya yang luar biasa, namun permohonannya untuk disembuhkan tidak dikabulkan oleh Tuhan. Namun ia punya perjalanan spiritual atas hal itu.

Sekalipun Paulus tidak disembuhkan dari sakit-penyakit, tetapi ia TIDAK berputus-asa, marah apalagi kehilangan harapan dan imannya. Justru kenyataan sakit yang harus terus dideritanya telah menyadarkannya, bahwa kebergantungan penuh kepada kekuatan Tuhan adalah hal yang sangat mutlak. “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat”.
Kok bisa Paulus punya pemikiran demikian ? Bukankah orang selalu berpikir, bahwa jika Tuhan di pihak kita maka segala hal yang dianggap gangguan dalam hidup bisa disingkirkan ? Atau sebaliknya. Jika seseorang mendapatkan dirinya ada banyak kekurangan, maka hal yang sering terjadi adalah keputus-asaan, kemarahan, kehilangan harapan, sehingga orang selalu berusaha menuntut banyak hal dari Tuhan agar dirinya memiliki berbagai kelebihan itu.

Inilah yang berbeda dari Paulus dengan yang lain. Alkitab menyebutkan, bahwa Paulus memiliki karunia Tuhan yang istimewa berupa penglihatan-penglihatan (vision) dan pernyataan-pernyataan (nubuat) dari Allah, yang tidak dimiliki orang lain (II Korintus 12 : 1 – 4). Orang yang memiliki keistimewaan itu tentulah menjadi suatu kebanggaan. Kelebihan itu dapat membawa orang yang memilikinya menjadi sombong rohani, menepuk dada dan meninggikan diri.

Hal itu tidak berlaku baginya. Sebab Paulus menyadari, bahwa selain “kelebihan” yang dimilikinya, ia pun punya kekurangan sebagai imbangan agar ia tetap berlaku rendah hati. Sebaliknya kekurangannya itulah yang menjadi kebanggaannya. Mengapa ?

Kekurangan yang dimilikinya telah mengajarkan hal berharga baginya, bahwa segala hal yang ada dalam dirinya hanyalah kasih karunia (gracia). Jika dia bisa berbuat segala sesuatu dalam memenuhi tugasnya sebagai seorang rasul, itu semata-mata bukan karena dia sendiri yang mampu karena memiliki berbagai pengetahuan yang lebih banyak dari yang lain. Jika dia sanggup dalam kelemahannya untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan Injil dan berkotbah, itu bukan karena dia punya kekuatan lebih dan merasa mampu dan bisa. Semuanya itu bisa terjadi atas kasih karunia Tuhan. Semuanya bisa dilakukan hanya karena kasih karunia Tuhan semata (lihat I Korintus 15 : 10 – 11) Atas dan karena kasih karunia Tuhanlah, maka segala hal yang ada dalam dirinya dan yang bisa dilakukannya bisa terjadi. Selanjutnya, semua yang bisa dikerjakannya bukanlah demi sesuatu bagi dirinya sendiri (popularitas, pujian, menumpuk harta, dsb), tetapi semata-mata bagi, untuk dan demi Tuhan (prodeo) yang telah memberikan kasih karunia itu.

Hal lain dari perjalanan rohani Paulus adalah, bahwa sekalipun “duri” masih tetap dalam dirinya, dan itu berarti ia harus mengalami berbagai “kendala” dalam melakukan pelayanan, namun Paulus tetap memperlihatkan totalitasnya. Terbukti, sekalipun ada “duri” dalam dirinya, pekerjaan pelayanan Paulus memperlihatkan kualitas dan hasil luar biasa. Banyak jemaat yang disentuh melalui kehadiran dirinya dan suratnya, yang di kemudian hari tanpa disadarinya, semua kisah pelayanan dan karyanya menjadi bagian terbesar dari Perjanjian Baru. Hal ini ingin memperlihatkan kepada kita, bahwa sekalipun “duri” dapat menjadi “kendala”, tetapi “duri” sama sekali tidak dapat mengurangi kualitas kinerja. Totalitas pelayanan tetaplah harus diperlihatkan dan diperjuangkan. Kekuatan untuk orang menjadi total bukan semata-mata karena dia mau dan mampu, tetapi karena kasih karunia Allah.

PERAN ORANG-ORANG DI SEKITAR YANG SAKIT
Ada yang menarik jika memperhatikan sikap istri Ayub terhadap kondisi yang dialami suaminya, demikian : "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu ? Kutukilah Allahmu dan matilah !” (Ayub 2 : 9) Apa yang terjadi ?

Tidak sedikit orang (anggota keluarga) yang bersikap pragmatis seperti istri Ayub itu. Hidup bahagia, ia mau menerimanya. Namun ketika masa sulit datang dan tidak segera berubah, apalagi setiap saat harus merawat dan menjaganya, maka lambat laun ia menjadi tawar hati dan lebih memilih untuk pergi, mencari kehidupan lain dan berharap memperoleh kebahagiaan di tempat lain. Sikap pragmatis ini jelas memperlihatkan keengganan untuk berproses dan berharap dalam masa sulit itu. Sikap ini nampak, misalnya, pada orang-orang yang memutuskan untuk bercerai ketika ada masalah dengan pasangan hidupnya, kemudian menikah lagi demi memperoleh harapan di tempat lain. Ironis bukan ?!

Mungkin begitu juga sikap sebagian orang ketika melihat teman atau sahabatnya mengalami sakit. Entah karena alasan apa, ada saja sikap-sikap yang mudah untuk cepat “menghakimi”, bukan rasa prihatin dan ikut bersedih, terhadap mereka yang sakit. Misalnya, orang berkata : “Dia sakit karena salahnya sendiri.” Mungkin perkataan itu muncul karena orang menilai pola dan sikap yang selama ini dikenal dari orang yang sakit itu dianggap salah dan keliru sehingga memicu munculnya sakit tersebut. Atau, bila sakit yang diderita seseorang berlangsung lama, mungkin karena keprihatinan, orang tanpa sadar berkata, misalnya : “Cepet sembuh dong, jangan sakit terus. Kasihan dong sama anak-anak dan istri/suami.”

Kondisi ini tentu semakin menambah beban psikis bagi orang yang sakit….. Penderitaannya bertambah, sebab bukan simpati yang diterima, melainkan tekanan psikis yang semakin menindihnya. Padahal yang mengalami beratnya penderitaan dan rasa sakit adalah orang yang sedang sakit itu sendiri, bukan orang-orang yang melihatnya atau pun yang memberikan penilaian. Begitu juga, tidak ada seorangpun yang berharap dirinya mengalami sakit, apalagi harus berlangsung cukup lama. Tidak ada seorang pun yang bersedia berada pada posisi seperti yang dialami Naaman, Ayub & Paulus. Namun jika sakit itu harus datang, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, hal itu menjadi kenyataan tidak menyenangkan yang harus dijalani dari waktu ke waktu entah sampai kapan. Kesembuhan selalu diharapkan, tapi itu milik Tuhan, anugerah-Nya. Jika seseorang menjadi sembuh dari sakit, itu adalah anugerah-Nya, bukan karena kehebatan dan upaya kita. Namun tokh, ada kenyataan bahwa kesembuhan tidak segera diperoleh dalam waktu singkat. Bahkan tidak sedikit juga orang harus mengalami sakit sepanjang hidupnya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang bakal terjadi di masa depan kita…..

Dengan demikian, keberadaan orang-orang di sekitar orang yang sakit memang dapat mendorong proses pencerahan itu berlangsung dengan baik atau tidak. Jika dukungan positif yang diberikan kepada yang sakit, maka proses pencerahan itu dapat dijalani dengan ketenangan dan kedamaian sekalipun ada juga kegalauan karena orang yang sakit tetap saja menggumulkan sakitnya itu. Sikap yang tetap, di antaranya adalah dampingilah mereka yang sakit dengan doa-doa Anda dan berikan ruang bagi orang yang sakit itu untuk tetap bergumul, di samping nasihat-nasihat yang membangun kesabaran dan ketenangan bagi yang sakit.

KESIMPULAN
1. Betul, bahwa sakit memberikan pengalaman tidak menyenangkan dan memenderitakan. Sekalipun demikian, sakit bukanlah momok yang harus ditakuti. Bukan juga membuat orang merasa gagal, putus-asa, kehilangan semangat dan harapan. Pengalaman ketiga tokoh Alkitab di atas memperlihatkan, bahwa sakit-penyakit bisa mendorong orang untuk mengalami perjalanan pencerahan iman luar biasa. Itulah sebabnya, tetaplah berdoa dan jalani proses yang terjadi, sebab ada rencana yang Tuhan nyatakan kepada Anda.

2. Paulus menyebut hidup Yesus sebagai suatu gambaran nyata dari perjalanan iman yang seharusnya menjadi acuan utama dari perjalanan iman kita. Mari kita baca Filipi 2 : 6 – 11, “’...., yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku : "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa.’”

Sekalipun IA adalah Tuhan, namun tidak mempertahankan predikat-NYA sebagai milik yang dipertahankan, melainkan IA bersedia mengalami perendahan, sebagai manusia bahkan hamba bagi manusia. IA bersedia mengalami sakit dan berbagai penderitaan. Pergumulan berat harus dijalani-NYA, sekalipun ia harus melewati fase kematian dan kerajaan maut dalam kesungguhan dan ketaatan. Sampai akhirnya IA bangkit dan kembali menerima tampuk kepemimpinan-NYA atas dunia dan alam semesta ini.
Hidup Tuhan Yesus ketika berada di dalam dunia ini memperlihatkan contoh yang pantas kita teladani dalam hidup. Bahwa semua proses itu dijalani-NYA dengan ketaatan dan kesetiaan...

3. Perjalanan iman mendorong kita untuk semakin mengenal Allah secara pribadi, bukan pura-pura, tetapi membutuhkan ketaatan dan kesetiaan yang akan membentuk iman Anda semakin kuat.

4. Pemulihan bukanlah tujuan perjalanan rohani, tetapi sebagai suatu konsekuensi logis yang pasti diterima bila orang bersedia berproses. Juga kita tidak menetapkan target macam apa atas pemulihan itu, sebab itu sepenuhnya bergantung dari perjalanan spiritual yang terjadi dan rencana Tuhan atas diri kita. Yang terpenting adalah bergumullah, alamilah semua proses yang terjadi ketika kita bergumul. Kuncinya, dengar-dengarlah dengan Allah, dan jangan mendengar diri kita sendiri. Sebab melalui proses itu, Allah ingin menjadikan kita semakin luar biasa di dalam iman.

5. Sakit bukan penghalang bagi orang yang mengalaminya untuk tetap berkreatifitas dan menunjukkan totalitas dalam berkarya. Justru sakit merupakan ujian untuk terus bersikap taat dalam memenuhi panggilan Tuhan. Bahkan ketika orang yang sakit itu tetap berkarya, maka itu dapat memberi sukacita tersendiri. Sebab kita menyadari, bahwa ketika orang tidak lagi bisa berkarya atau karyanya dibatasi, maka itu akan semakin meruntuhkan semangat dan harapannya karena ia merasa dirinya tidak lagi berharga di mata sesama.

6. Peran orang-orang di sekitar mereka yang sakit cukup besar terhadap perjalanan spiritual bagi mereka yang sakit. Dukungan dan pendampingan orang-orang di sekitar yang sakit dibutuhkan, sehingga pencerahan itu diperoleh secara luar biasa.

Read more...

MISTERI ALLAH

>> Kamis, 10 September 2009

Pengkhotbah 8 : 9 - 17

Ada seorang pemuda Kristen berusia 27 tahun. Ia baru saja menikah beberapa tahun, sebelum suatu hari ia menemukan dirinya terkena kanker kelenjar getah bening yang secara lambat namun pasti menggerogoti tubuhnya. Kanker itu menjalar dengan cepat mencapai stadium empat. Pelbagai usaha pengobatan sudah dilakukan, mulai dari mencoba pengobatan tradisional sampai dengan chemoteraphy, namun hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda menuju kesembuhan, bahkan semakin hari tubuhnya semakin kurus kering dan kematian sudah diambang pintu.

Di tengah-tengah sakitnya, sang pemuda bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan semuanya ini terjadi dalam hidupku ? Aku orang baik-baik. Aku setia beribadah kepada-Mu. Aku punya tekad ingin menjadi pemuda Kristen yang berani bersaksi dan melayani-Mu. Mengapa Engkau membiarkan aku dalam keadaan seperti ini ?”

Pertanyaan pemuda ini tidak mudah untuk dijawab, bahkan bisa dibilang tidak bisa dijawab oleh kita sebagai manusia. Dalam hidup ini seringkali kita berhadapan dengan hal-hal yang sulit untuk dicerna dengan logika. Di sinilah kita mengakui ada banyak misteri di dalam hidup yang tidak mudah dipahami. Kita tidak tahu, mengapa Allah membiarkan hal-hal yang buruk menimpa orang-orang baik, sementara orang jahat justru nampaknya mujur terus ? Mengapa Allah membiarkan seorang bayi yang masih polos meninggal dunia dan menghancurkan harapan kedua orang tuanya ? Mengapa orang-orang miskin hidupnya semakin menderita, bahkan jadi korban ambisi segelintir orang ? Di manakah letaknya keadilan Allah jika demikian ? Apakah sebenarnya kehendak Allah atas kita ?

Jika kita terus bertanya, “Mengapa Allah begini atau begitu” dan tidak dapat menemukan penjelasan yang memuaskan, mungkin kita bisa merasa kecewa, bahkan frustrasi dalam mengenal Allah. Ada banyak orang meninggalkan Tuhan karena mereka semakin lama semakin tidak yakin bahwa Allah itu ada. Ketidak-yakinan itu muncul karena mereka menganggap bahwa Allah tidak berbuat apa-apa bagi mereka. Allah dituduh tidak dapat membuktikan keadilan-Nya dalam hidup mereka. Bagi mereka, itu berarti Allah tidak ada !

Masalahnya bagaimanakah kita harus bersikap jika kita menemukan hal-hal yang merupakan misteri Allah dan kita tidak paham akan kehendak-Nya ? Mari kita berguru sejenak dari Pengkhotbah !

Penulis Kitab Pengkhotbah adalah seorang yang sangat jujur dan realistis dalam menggambarkan kehidupan manusia. Ia berbicara secara terbuka (blak-blakan, apa adanya) tentang fakta hidup manusia, yang seringkali dirasakan begitu pahit :
Pertama, Pengkhotbah melihat adanya kehidupan yang keras. “Orang yang satu menguasai orang yang lain hingga ia celaka.” (ayat 1) Penindasan terhadap kaum lemah selalu terjadi di muka bumi ini tanpa bisa dihalangi. Seolah-olah tidak ada campur tangan dan pertolongan Allah di bumi ini. Siapa yang kuat, ia yang menang.

Kedua, Pengkhotbah melihat adanya ketidak-adilan dalam kehidupan beragama. Terkadang agama dipakai untuk memihak kelompok yang salah, membela dan merestui sepak terjang orang yang berbuat kejahatan, sedangkan orang-orang yang berlaku benar tidak dihargai bahkan dilupakan. “…orang-orang fasik…boleh masuk, sedangkan orang yang berlaku benar harus pergi dari tempat yang kudus dan dilupakan dalam kota.” (ayat 10)

Ketiga, Pengkhotbah melihat orang jahat seringkali nampak hidup dalam kemenangan. “Hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan.” (Ayat 11), sehingga tidak ada rasa keadilan di tengah masyarakat. Seringkali sampai hari inipun kita masih melihat adanya pejabat atau orang kaya yang melakukan tindak korupsi besar-besaran atau diktator yang gagal dijerat dan dapat menyogok para hakim dengan uang untuk memutar-balikkan kebenaran.

Keempat, Pengkhotbah melihat, bahwa ada orang-orang yang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar. (ayat 14) Pendek kata, yang benar diganjar seperti orang fasik dan orang fasik hidupnya dipenuhi pahala yang seharusnya menjadi milik orang benar.

Fakta-fakta di atas tentu membuat kita berpikir, untuk apa hidup benar jika kenyataan lebih memihak kepada orang yang tidak benar. Atas fakta-fakta itu, Pengkhotbah justru menekankan 2 hal :
1. Kita harus yakin, bahwa orang-orang fasik hidupnya tidak akan beroleh kebahagiaan sejati. Mungkin mereka dianggap berbahagia di dunia ini, tetapi kebahagiaan itu semu. Untuk apa berbahagia di bumi, jika tidak ada jaminan hidup sesudah kematian nanti ?
2. Kita harus belajar untuk beriman, bahwa sekalipun ada banyak hal yang sulit dipahami dengan logika, namun dengan iman kita dapat memahami semuanya itu dan tetap hidup di dalam kesukacitaan sebab Tuhanlah yang akan menyatakannya dalam hidup kita.

Read more...

BELAJAR BERPENGHARAPAN

Kisah Rasul 27 : 14 – 44, Roma 8 : 28

Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Ada seorang yang selalu mempunyai jawaban atas kejadian yang menimpa dirinya. Suatu hari, ia terlihat berjalan terpincang-pincang. Rekannya bertanya, “Apa yang terjadi ?” Dia menjawab, “Kemarin, saya mendapat kecelakaan. Saya ditabrak angkot. Tapi, untunglah cuma kaki kiri yang terluka.” Rekannya ini sedikit usil dan berkata, “Kamu sih nggak hati-hati. Coba kamu bayangkan, jika angkot itu membuat kedua kakimu cacat sehingga tidak bisa digunakan lagi ?” Orang itu menjawab, “Memang repot juga sih. Tapi kenapa bingung, khan aku masih punya kedua tanganku untuk bekerja.” Rekannya ini sangat keheranan melihat sikap temannya yang selalu mengatakan beruntung walau dirinya cacat, sehingga ia bertanya lagi, “Bagaimana kalau kecelakaan itu membuat kaki dan tanganmu cacat semuanya ?” Ia berkata dengan yakin, “Memang aku akan menjadi orang cacat. Tapi aku masih beruntung tidak mati...?” Kalaupun misalnya orang itu mati dengan luka yang mengenaskan, orang sering berkata, “Tapi syukur dia mati, tidak perlu menderita terlalu lama.…”

Ilustrasi tersebut masih sering kita jumpai pada sikap kebanyakan orang. Mereka masih memiliki pengharapan walaupun berada di tengah penderitaan dan kesesakan. Hal ini tentu saja amat baik. Ia selalu melihat peristiwa yang menyesakkannya dari sisi positifnya (baik) dan tidak dari sisi negatifnya (buruk). Hanya saja, pandangan iman Kristen menganggap hal itu masih belum cukup. Artinya, bukan oleh karena kita tidak mengalami hal yang lebih buruk sehingga kita tetap memiliki pengharapan, tetapi oleh karena kita tetap memiliki keyakinan dan iman, bahwa segala sesuatu akan mendatangkan yang lebih baik. Seorang pengangguran, misalnya, tetap berusaha mencari pekerjaan sekalipun kemungkinannya semakin kecil di tengah persaingan yang begitu berat saat ini; Seorang karyawan misalnya, merasa tetap bersyukur sekalipun gajinya kurang dari mencukupi di tengah kenaikan harga barang-barang pokok yang terus melambung tinggi; Atau, seorang pasien, misalnya, rela membayar biaya yang begitu mahal untuk menjalani operasi.

Dengan demikian, pengharapan merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh setiap orang. Tanpa pengharapan, ia ibarat laksana buih yang dipermainkan oleh gelombang lautan, sehingga centang-perenang dihajar gelombang. Ia ibarat pohon eceng gondok yang tidak punya dasar pijakan hidup karena mengambang di permukaan air. Padahal kita tahu, hidup manusia itu lemah dan tanpa daya. Alkitab menggambarkan hidup manusia seperti rumput, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu (Mazmur 90 : 5 – 6) dan debu (Mazmur 103 : 14b). Hidup manusia penuh dengan berbagai hal yang melemahkan dan menghancurkan. Bahkan kita sendiri tidak pernah tahu kapan kita akan menjadi lisut dan layu, baik karena ulah pihak lain, sebagai akibat dari tindakan kita sendiri atau sesuatu hal yang tidak pernah kita tahu apa sebabnya. Keadaan seperti itu mudah membawa manusia kepada kekecewaan dan keputus-asaan. Dan menurut Chrysostomos, bapa gereja abad ke-4 menulis, “Yang membinasakan kita bukanlah dosa, melainkan keputus-asaan.”

Betapa pentingnya sikap berpengharapan dalam hidup kita. Namun persoalannya adalah bagaimana kita belajar untuk tetap memiliki pengharapan itu ? Sebab kita sadar, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat dengan pasti mengetahui dengan jelas apa yang akan terjadi dalam kehidupannya; bahwa tidak ada seorangpun yang tahu dengan pasti dan jelas apa dan bagaimana masa depannya ? Apa yang ada di depan kita hanyalah samar-samar…. (bdk. I Korintus 13 : 12) Belajar tetap berpengharapan merupakan sesuatu hal yang sering menjadi persoalan dalam hidup beriman kepada Tuhan Yesus. Sebab di situlah iman kita benar-benar diuji. Dalam rangka inilah, kita akan belajar tentang hidup berpengharapan dari salah satu sketsa hidup rasul Paulus, yang saat itu sudah menjadi tawanan tentara Romawi dan akan diadili di Roma, suatu kota yang selalu menjadi impiannya untuk disinggahi.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Dalam pelayaran menuju Roma (Italia), kapal yang ditumpangi Paulus terkandas. Akibatnya seluruh penumpang, termasuk Paulus di hadapkan pada bahaya, yang setiap saat dapat merenggut nyawa mereka. Mereka merasa ketakutan yang amat besar. Dalam kondisi seperti itu, mungkin mereka bertanya-tanya dalam hati, apakah pengalaman ini menjadi suatu akhir dari petualangan hidup para penumpangnya, termasuk juga Paulus dalam menjalankan tugasnya untuk mengabarkan Injil. Suatu hal yang penuh tanda tanya, namun “masa depan” itu terlihat suram dan menyakitkan. Apakah hidup mereka harus berakhir dengan cara seperti itu ? Kita tahu, bahwa tidak ada seorang pun yang bermimpi hal itu terjadi dalam kehidupannya. Namun sekali lagi, apakah dengan terkandasnya kapal yang mereka tumpangi merupakan tanda bahwa inilah bagian hidup terakhir dari seluruh petualangan hidup kita ? Tidak ada seorang pun yang tahu.
Dalam kondisi itu, setiap usaha dilakukan dengan sekuat tenaga. Mereka membiarkan dirinya terus terombang-ambing oleh angin badai “Timur Laut” yang begitu hebat berhembus dan tanpa henti. Mereka pun membuang muatan dan alat-alat kapal agar tetap selamat. Berhasilkah mereka ? Ternyata tidak ! Badai itu semakin hebat menerpa, dan hal ini menyebabkan keputus-asaan yang mendalam. Tiada harapan, itu pikir mereka.

Kondisi ini mirip kehidupan kita semua. Ketika badai hidup terus menerpa dan tiada henti, kita pun merasa putus asa dan kehilangan harapan bila seluruh usaha dirasakan gagal. Habislah sudah ! Inilah akhir hidup kita ! Dalam keadaan tanpa harapan, bisa saja kita menjadi orang yang menyalahkan diri sendiri, tenggelam dalam penyesalan yang tiada habisnya, dan akhirnya hidup kita berakhir tanpa memiliki makna hidup apa-apa; bisa jadi pula orang-orang yang hidup dalam pengharapan saling menyalahkan satu terhadap yang lain sehingga keadaan tidak menjadi lebih baik. Sekalipun Paulus berkata, “Saudara-saudara, jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini !” (Ayat 21b), hal itu tidak dapat mengubah situasi genting yang sedang dihadapi seluruh penumpang di kapal itu. Bahaya itu tetap ada di depan mata, sedangkan mereka masih belum memiliki sikap yang jelas terhadap kondisi yang dihadapinya. Kalimat selanjutnya yang diucapkan Paulus justru memberikan kekuatan. Ia menerima penglihatan akan keselamatan seluruh penumpangnya (ayat 24). Di situlah Paulus menasihatkan : “Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara ! Karena aku percaya kepada Allah….” (ayat 25a)

Percaya atau beriman, seperti yang dikatakan Paulus, harus menjadi pilihan setiap orang. Ini harus menjadi langkah awal, terlebih ketika keadaan bahaya sedang mengancam. Setiap orang harus percaya bahwa Allah akan bertindak sesuai kehendak-Nya. Allah yang seperti apa yang kita yakini ? Allah sebagai kekuatan yang menolong dan menyelamatkan ? Tidak cukup dengan mengetahui bahwa Allah itu sebagai ini dan itu ! Namun kita harus benar-benar meyakini akan kuasa-Nya yang bekerja dalam hidup kita (Roma 8 : 28). Inilah yang harus kita yakini sungguh-sungguh ! Sebab dengan meyakini Allah sebagai pribadi yang bekerja dalam hidup kita, maka :

1. Kita tidak perlu bertanya-tanya mengapa kejadian yang tidak menyenangkan terjadi pada diri kita. Sebab pertanyaan-pertanyaan itu, sekalipun kita mendapat jawabannya, tetap saja tidak pernah memberikan kepuasan. Dari pertanyaan yang satu akan muncul pertanyaan yang lainnya dan seterusnya begitu, dan kita tetap saja berada dalam keputus-asaan, bahkan bisa jadi terus tenggelam di dalamnya. Sebaliknya, dengan menaruh keyakinan pada Tuhan, maka itu berarti kita belajar untuk menaruhkan hidup kita sepenuhnya pada rencana dan kehendak Tuhan. Sebab kita tidak pernah akan tahu mengapa semua ini terjadi. Yang kita ketahui adalah, apakah kita senang/sedih, sukses/gagal, bahagia/kecewa; hidup kita tidak ada di tengah nasib yang tanpa tujuan. Tapi di tangan Allah, yang turut bekerja dalam segala sesuatu, dan akan mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya (Roma 8 : 28).
2. Kita tidak perlu bertanya-tanya “bagaimana” Allah akan bekerja atas semua peristiwa yang dialami oleh manusia. Sebab kita sering tidak pernah tahu. Kita memang tidak melihat Dia. Yang perlu kita ketahui, bahwa Allah tidak akan tinggal diam. Ia akan bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi manusia. Kebaikan menurut siapa ? Tentunya bukan menurut ukuran manusia, tetapi ukuran kehendak Tuhan yang penuh kasih. Paulus berkata demikian : “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup...atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu mahluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8 : 37 - 39) Tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang mampu memisahkan kita dari kasih Allah, sebab kasih Allah itu tetap untuk selama-lamanya dan tidak pernah berhenti.

Dengan iman, kita dapat “melihat” keadaan buruk dan genting dari sisi baiknya, yakni hidup kita berada di tangan Tuhan. Namun kita harus tahu pula, bahwa dengan tetap menaruh rasa percaya, itu bukan berarti menghilangkan situasi bahaya yang sedang dihadapi. Sebaliknya, dengan iman, kita dapat melanjutkan perjalanan yang berat itu dengan kekuatan baru…..

Buktinya, badai itu masih menerpa dan terus menerpa. Hanya saja, kini mereka telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Mereka dapat terus berjalan di tengah badai itu dengan kekuatan baru, sehingga mereka dapat melakukan hal yang lebih baik dan bersikap hati-hati. Mereka dapat mengukur kedalaman laut dan mereka pun dapat membuang sauh untuk mengindahr dari bahaya yang lebih besar, yakni kapal yang menghantam batu karang. Namun di antara mereka yang tidak memiliki keyakinan, mereka ingin segera mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke laut. Sebab pikir mereka, di depan sudah tidak ada harapan apa-apa untuk dijadikan pijakan. Bagi sementara yang memiliki iman, mereka tetap bertahan dan terus bertahan, sampai akhirnya kehendak Tuhan dinyatakan.

Read more...

ANAK MILIK SIAPA ?

>> Senin, 17 Agustus 2009

Mazmur 127 : 1 - 5

Seorang filsuf ternama, yakni Kahlil Gibran pernah menuliskan perenungannya mengenai anak demikian :

Anakmu sebenarnya bukan milikmu.
Mereka adalah anak Sang Hidup yang mendambakan hidup mereka sendiri.
Mereka memang datang melalui kamu,
tetapi mereka bukan milikmu.
Engkau bisa memberi kasih sayang,
tapi engkau tidak bisa memberikan pendirianmu,
sebab mereka memiliki pendirian sendiri.

Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya,
tapi tidak untuk jiwanya,
sebab jiwa mereka ada di masa depan yang tidak bisa engkau capai
sekalipun dalam mimpi.
Engkau boleh berusaha mengikuti alam pikiran mereka,
tapi jangan harap mereka dapat mengikuti alammu,
sebab hidup tidaklah surut ke belakang,
tidak pula tertambat di masa lalu.
Engkau adalah busur dari mana bagai anak panah,
kehidupan anakmu melesat ke amsa depan.
Sang Pemanah maha tahu saaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.
Terlepas apakah ia pernah membaca Mazmur ini, namun pemahaman mengenai siapa anak dalam kehidupan orangtua sangatlah jelas dan hampir mirip. Secara sederhana ia hendak mengatakan, bahwa seorang anak dalam kehidupan orangtua adalah titipan Tuhan. Orangtua tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk menentukan hdiup si anak. Si anak punya kehidupannya sendiri. Fungsi orangtua adalah mendorong si anak (bagai anak panah yang melesat jauh) kepada mas depannya sendiri.

Jiwa dari pandangan Kahlil Gibran lebih jelas tertangkap oleh pemaparan Pemazmur mengenai anak. Milik siapakah seorang anak ?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Pemazmur mengawali pemahamannya mengenai gambaran kehidupan rumah tangga. Ia menyebutkan, bahwa sebuah rumah tangga dapat bisa dibangun, apakah dengan kekuatan dan kemampuan orang-orang yang ada di dalamnya, atau oleh Tuhan. Ada perbedaan yang mendasar di sini ! Bila sebuah rumah tangga dibangun dengan kekuatan dan kemampuan orang-orang yang ada di dalamnya dapat runtuh. Ia bagaikan bangunan yang berada di tepi pantai dan ketika ombak mengantam maka rubuhnya bangunan itu. Namun bila ia dibangun di dasar kekuatan Tuhan, maka bangunan itu akan tetap berdiri kokoh dan mendapatkan kemuliaan dari Tuhan. Mengapa ?

Hidup manusia tergantung sepenuhnya oleh berkat dan anugerah dari Allah. Manusia tidak bisa dengan kekuatannya sendiri memperoleh semua apa yang diharapkan. Sehebat apapun manusia itu, bila tanpa perkenan dan kehendak Tuhan, maka semua usahanya akan menemukan kesia-siaan belaka. Sebab Tuhanlah yang menentukan semua berkat yang diperoleh manusia, baik segala miliki yang bersifat materi, juga anak-anak.

Memang anak adalah buah cinta kasih laki-laki dan perempuan yang bersatu dalam pernikahan kudus. Namun keberadaannya adalah kehendak Tuhan. Tuhanlah yang memberikan dan menganugerahkannya. Tuhanlah yang berkehendak ! Kita sering mendengar, bahwa banyak pasangan suami-istri yang begitu susahnya memperoleh seorang anak. Padahal segala usaha telah dilakukannya demi memperoleh anak. Bahkan banyak hal telah dikorbankan, termasuk uang dan harta dihabiskannya demi mendapatkan seorang anak. Ini berarti, bahwa usaha manusia bukanlah yang paling utama dan pertama, melainkan Tuhanlah yang berperan dan menentukan, sehingga setiap pasangan nikah harus memintanya kepada Tuhan sebagai sumber berkat.

Di sini, anak dalam kehidupan orangtua tidak lain merupakan anugerah-Nya, yang dititipkan kepada orangtua untuk diasuh, dididik, dikasihi dan dipenuhi segala kebutuhannya (jasmani, rohani, mental dan spiritual). Dasarnya karena Tuhan mengehendaki agar anak juga merasakan bahwa Tuhan Allah adalah kasih (bdk. Ulangan 6 : 4 – 9).

Karena sifatnya titipan, maka tanggung-jawab orangtua bukan sekedar memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya belaka, tetapi juga belajar memahami bahwa masa depan si anak bukan terletak pada kuasa dan kehendak orangtua. Orangtua mempunyai kewajiban untuk mendorong si anak memilih jalan hidupnya yang terbaik baginya. Ia bagaikan anak panah yang melesat jauh. Orangtua berperan memberikan bekal sebanyak-banyaknya kepada anak sehingga si anak dapat mementukan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Read more...

KUAT DI LUAR, RAPUH DI DALAM

>> Minggu, 09 Agustus 2009

Matius 23 : 25 - 28

“Kuat di luar namun rapuh di dalam” menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Jika itu diibaratkan buah, maka apa yang nampak dari luar belum tentu menjamin isi yang bagus di dalamnya. Biasanya buah seperti itu tidak kita inginkan. Pilihan yang terbaik adalah keadaan luar (penampilan) dan keadaan dalam (isi) sama-sama mendukung. Nah, bagaimana jika hal itu menyangkut kehidupan manusia ?

Perjanjian Lama pernah menceritakan kisah seorang Hakim bernama Simson. Ia memiliki kelebihan sebagai karunia Tuhan, yakni memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga setiap kali peperangan, ia selalu memenangkannya bagi bangsanya. Tenaga yang kuat itu adalah anugerah Tuhan baginya, agar ia dapat menjalankan fungsinya sebagai “hamba Allah”. Namun karunia itu tidak dibarengi karakter yang baik. Ia mudah jatuh hanya karena wanita. Itulah tumit arkhilesnya. Akibatnya, pekerjaan dan kemampuan yang tampak di luar bisa saja tidak memberikan gambaran sesungguhnya tentang mutu rohani dan hubungan kita dengan Tuhan. Seharusnya apa yang tampak dalam kegiatan di luar kita merupakan hasil dari hubungan patuh dan teguh dengan Tuhan.

Tuhan Yesus berkata dengan nada keras : “…di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” Perkataan Tuhan Yesus ini ditujukan kepada kaum Farisi dan para ahli Taurat. Memang, ada konflik yang terjadi dan itu cukup tajam antara Yesus Kristus dengan mereka. Konflik itu berjalan sejak Ia memulai tugasnya untuk mengajarkan tentang kasih dan memberikan keselamatan bagi dunia ini. Kali ini, nada keras itu malah berupa kecaman. Pertanyaan kita, mengapa Yesus mengecam mereka begitu kerasnya ? Apa alasan-Nya sehingga Ia berkata demikian ? Mari kita telusuri bersama.

Bagi umat Yahudi, kaum Farisi dan para Ahli Taurat adalah para cendekia agama yang disanjung dan dipuja. Hal ini dapat dimengerti, sebab mereka amat serius dengan agama. Apapun yang tertulis dalam Kitab Suci ditaati. Satu titik dan komapun tak terlampaui (Setiap hari mereka berdoa minimal 3 kali; setiap bulan mereka memberikan perpuluhan; Puasa dijalankan dan ibadah tidak pernah terlewatkan. Mereka bahkan menambahkannya dengan hukum-hukum ciptaan sendiri. Pendek kata, mereka adalah orang-orang yang relogius, rohaniawan sejati.

Bila benar begitu, mengapa Yesus amat mengecam mereka ? Jawabnya adalah, karena kecongkakan rohani mereka itulah. Agama mereka adalah agama “perbuatan baik”. Setiap perbuatan baik adalah prestasi, dan prestasi berarti hak untuk menerima ganjaran, upah dan pahala. Jadi, apapun yang mereka terima (keselamatan) adalah hasil keuletan mereka dan bukanlah hadiah (anugerah), sehingga mereka berhak untuk merasa berbangga diri dan sombong. Di hadapan Allah, mereka menuntut, tak meminta lagi (seperti anak bungsu yang menuntut kepada ayahnya “bagian harta milik yang menjadi haknya”).
Kesombongan rohani ini nampak juga dalam sikapnya menilai dan menghakimi orang lain menurut ukuran dan kaca mata mereka. Yang berbeda dengan mereka dianggap kafir, sesat dan berdosa. Apalagi kalau bukan kecongkakan rohani ? Mereka bukan saja mengangkat kepala di hadapan Allah dengan sikap menagih hutang, melainkan juga mengangkat dagu di hadapan sesama dengan sikap seorang hakim rohani.

Yesus tidak menyukai hal ini, sebab iman yang Ia perkenankan, bukanlah iman yang menghakimi, tetapi iman yang siap mengampuni. Yesus tidak menyukai hal ini, sebab iman yang Ia kehendaki adalah iman yang menundukkan diri di hadapan Allah, dalam kesadaran akan ketidak-layakkan sendiri; serta menundukkan diri di hadapan sesama, dalam kesediaan untuk melayani.

Yesus sangat tidak menyukai hal ini, sebab dengan sikap seperti itu, agama lalu menjadi belenggu yang memenjarakan. Iman menjadi sarat oleh beban dan kewajiban, tak lagi membebaskan. Hidup pun lalu kehilangan sentuhan kasih, sebab hidup diukur menurut hitam atau putih.

Itulah sebabnya, Yesus menyebut mereka sebagai orang-orang munafik. Sebab cawan dan pinggan dibersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Bagi-Nya, apa yang dilakukan oleh mereka tidak ada faedahnya sama sekali. Menekankan soal penampilan dibandingkan isi hati hanya menjadikan orang-orang yang hidup bertopeng.

Itulah sebabnya, Yesus menyebut mereka sebagai orang-orang durjana. Sebab mereka sama seperti kuburan yang indah luarnya saja karena dilabur putih dan nampak bersih, tetapi sebelah dalamnya layaknya mayat yang penuh tulang-belulang dan berbau tidak menyedapkan.

Sebaliknya, Yesus amat dibenci oleh mereka. Yesus dianggap sebagai pemimpin rohani yang urakan, dianggap terlalu “liberal”. Sebab Ia memperhatikan yang tersirat, bukan yang tersurat. Bagi mereka, Yesus adalah pemimpin yang plin-plan. Tidak konsisten dan konsekuen, sebab Ia lebih suka mengampuni daripada menghakimi. Bagi mereka, Yesus adalah tokoh berbahaya, menyesatkan dan menggoncangkan iman umat. Sebab bila bekas pelacur dijadikan sahabat, di mana lagi norma dan martabat ?!
Memperhatikan kedua sikap di atas, maka gaya hidup kaum Farisi dan para ahli Taurat lebih dekat dengan kehidupan dan cara berpikir kita. Sedangkan sikap Yesus begitu berlawanan dengan naluri keagamaan kita. Inilah yang menjadi kecaman Yesus kepada mereka.
Tak banyak orang memiliki kerendahan hati untuk menerima sesuatu dari Tuhan dengan cuma-cuma. Jauh lebih banyak orang yang ingin berbuat sebanyak-banyaknya untuk Tuhan, agar merasa berhak menerima sebanyak-banyaknya pula dari Tuhan.
Tak banyak orang memiliki kerendahan hati untuk menerima orang lain seperti apa adanya. Jauh lebih banyak orang yang menuntut sesama sama seperti mereka, daripada seperti Yesus Kristus yang bersedia mengosongkan diri-Nya sendiri dan menempatkan pada posisi sesama (Filipi 2 : 5 – 8).

Apa makna kecaman Yesus kepada mereka bagi hidup kita ? Sesuatu yang ada di luar (penampilan, kesibukan pelayanan, dsb) harus berkaitan erat dengan apa yang ada di dalam (keadaan rohani yang bersumber pada hubungan yang dekat dan benar dengan Tuhan). Penampilan yang baik atau pelayanan yang baik harus didukung oleh sikap hati yang benar di hadapan Allah. Tanpa itu, penampilan kita sebaik apapun, atau pelayanan kita sesibuk dan sebanyak apapun, tokh tidak ada maknanya sama sekali, meskipun dilihat oleh banyak orang. Jika itu berkaitan dengan pelayanan, maka pelayanan kita tidak untuk dijadikan dasar berbangga diri, apalagi bersombong diri. Pelayanan kita semata-mata karena anugerah Tuhan; Ia memberikan kesempatan untuk kita mengakualisasi diri atas kesempatan dan talenta yang telah Ia berikan. Ia memberikan kesempatan untuk kita menyatakan rasa syukur atas hidup dan keselamatan yang telah kita terima dari-Nya, dan bukan untuk berpamrih.

Read more...

About This Blog

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP